lembaran jiwaku

lets go frienz hehehehehe…

Arsip untuk Pena berjalan

Gw punya temen. Biasa aja seh…wajahnya gak menyakinkan banget pokoknya. Di liat dari posturnya, mirip dengan om-om. Dengan tampang gitu, kadang gw heran…mosok tampang lelaki yang gak cowok banget gitu bisa bo’ongin banyak orang. Termasuk gw yang awal-awalnya termakan oleh omongannya. Kami terbilang deket. Wahh…kalo kemana-mana dia sering ngajak gw. Keliling seantero Jogja..hehehehe. Sebut aja si Poki yah…? gw gak maw ketahuan namanye…kasian dia…ntar malah dijauhin temen2. Oh ya…dia tuh satu angkatan ma gw. Cuman beda jurusan aja…(buat keamanan…identitas si Poki dijelaskan seperlunya saja). Kami juga satu organisasi. Nah…ada hal yang bikin gw benci banget ma dia. Hobi bo’ong. Tapi gw sembunyiin aja dulu di kolong hati. Kalo dibeberkan sekarang, dia ntar malah nangis. Sok mengiba gitu. Bahkan jika gak dimaafin dia pasti ngambek terus…ampe gw bosen. Sifatnya itu lho yang bikin gw marah…bo’ongnya selangit…wuihhhh..kereen pokoknya…bikin cewek klepek-klepek deh…

Gini ceritanya…gw kenalan pertama kali ma dia pas ospek universitas. Si Poki ini salah satu koordinatornya. Sedangkan gw pengawas jalannya ospek. Semacam SC lah…yang membentuk, mengawasi, membantu dari jauh, dan mengontrol OC alias panitia. Ya….semacam konseptor gitu. Kita balik ke masalah Poki tadi. Hemm…Poki ini suka banget saat itu ngajak gw jalan2 keliling tanpa pasti tujuannya kemana. Yang penting dia bisa puas keliling dan cerita ma gw.

Naahhh boongnya dia yang pertama….tuh dia cerita ma gw..Kalo dia tuh dah punya istri. Awalnya  gw percaya. Wahhh kerennnn dunk. Trus gw nanya ngalor ngidul..gmn kehidupan seksnya, cara bedain cewek yang masih suci ama yang dah gak suci lagi, trus keluarga dirumahnya..dan bla,bla,bla…gitu. Itu jadi kebiasaan kalo gw pulang kuliah trus mampir ke sekret organisasi kampus. Wuihhh ternyata berita kawinnya si Poki dah nyebar, coyyy!!.

Yang bikin sebel, klo gw nanya mana tuh istrimu..jawabannya pasti ganti entah tiap jam ato tiap menit. Ohh anu mas..lagi belanja. Eh lagi kuliah tuh. eh anu dink lagi apa ya? ehhh lagi bobok..maklum kecapekan kan tadi malem abiz maen sama suaminya hehehehe ( tersenyum kecil). Hem…alhasil Poki naek gengsinya..Dari orang yg biasa berubah luar biasa. Terkenal…seantero kampus. Saat itu gw masih lom yakin jadinya ya cuman bilang..oh wajar maklum..penganten baru jadi malu. Ato walahhh karena istrinya jelek kaleee makanya malu hahahahahaha…

Pernah gw di ajak ke rumahnya sekedar ngambil helm. Pas masuk, gw liat2 foto keluarga. Terus tatanan interior rumahnya..wuihhh orang kaya. Tapi kok anaknya agak sedikit goblog sehh? bukannya gw jelekin Poki. Lha wonk ketika kutanya..ibumu kerja dimana? jadi apa? truss kalo babe loe? Poki jawab : Mama jadi dosen di kedokteran UGM. Papa dosen dan jadi dekan di UIN Suka.

Hemm..kalo liat foto di dinding ternyata dia emang kurusan dulunya. karena foto itu pas sakit dan jamannya smp. Ada foto bapaknya, ada foto dia ma ibunya, ada foto bapak ibu trus ka2nya dan ma dia juga. Trus..kutanya eh Poki foto kakakmu yang cewek kemana? (Klo jalan2 dia cerita bahwa Poki ini punya 2 Kakak. 1 Cowok kuliah S2 di Kenotariatan Hukum UGM, 1 lagi cewek di kedokteran Umum UGM kira2 adik satu tingkat dibawahku. Sedangkan si Poki 2 tingkat dibawahku). Lanjutin lagi yah? pas pertanyaan soal foto kakaknya yang cewek, Poki jawabnya santai. Anu mas..dimasukin ke kamar. Abiz fotonya gede sehhh. Kata Mama gak bolehh di pamerin di ruang tamu. Sama juga seandainya di sini ada tamu mahasiswa cowok, kakakku gak boleh keluar dari kamar sampai mahasiswa  temenku ato mahasiswanya Papa/Mama pulang. Kupikir..wuihhh protektif banget.

Februariku yang sunyi

Februariku tlah kembali. Menemuiku pada jejak tua. Yang mengeriput.Makin renta aku.Kadang aku ingat, jika pada tanggal 10 kemarin itu, ultahku terasa hampa. Karena ku merayakannya sendiri. Tanpa orang yang kukasihi berada di sampingk. Membosankan…..

Tahun berganti

img_0041.JPG

Tahun berganti. Memasuki pada angka 2007, aku merasa umurku berkurang. Kadang aku malu untuk menatap diri dihadapan kaca. Apa yang telah kulakukan untuk masa depanku sendiri? Terlalu absurd untuk membayangkan. Tapi, begitulah hidup. Penuh teka-teki dan misteri. Berkutat dengan segala masalah yang setiap saat mengintaimu. Dari sudut manapun. Bahkan, dari sudut yang dirimu suka. Semisal: persoalan cinta.

Sudah kurencanakan pada tahun ini. Kalau aku ingin mencari tantangan lebih. Yang tidak terlalu mengikat, tapi menguntungkan dari sudut materi. Selain itu aku harus konsentrasi kuliah. Masalahnya adalah, bukan bisa tidaknya tapi cepat lamanya dalam mengambil kesempatan untuk lulus kuliah. Aku kadang iri dengan teman-temanku. Meskipun mereka adalah kakak angakatanku. Seharusnya wajar jika mereka memang lulus lebih dulu. Bagiku tidak. Malah sebaliknya, karena aku selalu menginginkan lebih. Bukannya ambisius—karena aku memang demikian. Sebelum usia 30 tahun, sebagai pria, aku harus sudah punya uang. Artinya, sudah mempunyai penghasilan. Jika mungkin, mampu menciptakan peluang kerja dan kesempatan berusaha. Aku ingin meneruskan tradisi. Hidup dengan menikmati pekerjaannya sendiri.

Januari 2007. Setelah membuat resolusi tahun ini, aku menahan nafas dalam-dalam. Setahun sudah aku berada dilingkaran alur aktifitas organisasi mahasiswa tingkat universitas di lembaga eksekutif. Kawan-kawan seperjuanganku datang dan pergi. Ada yang kembali pulang. Karena sudah lulus dan menikah, ada yang masih tinggal. Menyisakan waktu tanya. Kapan bisa merampungkan skripsinya. Aneh juga, aku kadang berpikir begitu. Padahal, besok aku memilih pameran. Sayang sekali. Karyaku kebanyakan berupa karya grafis. Jika mungkin, aku ingin membuat karya instalasi. Dan kubuat itu dalam nuansa Jawa, di ruang pameran Senirupa FBS Barat. Doakan aku.

Aku ingin menulis suatu hal. Tentang perasaanku. Sebenarnya aku senang atau sedih aku malah tidak tahu. Lagi-lagi berkaitan dengan perempuan. Aku mengenal seseorang pertama kali. Ketika ada semacam program kerja dari lembaga eksekutif—di mana aku menjadi penanggung jawab acara itu. Orangnya ceria, selalu senyum. Kadang nakal. Sedikit menggoda. Berdasarkan biodata di absensinya, aku mengetahui jati dirinya.

Malah aku hampir saja jatuh cinta. Lantas aku ingat. Dalam dunia seperti ini, aku tabu untuk jatuh cinta. Apa lagi sampai mencintai. Kenapa? Cinta adalah suatu candu. Mempunyai daya menghibur—sekaligus mematikan. Maka, aku harus berhati-hati. Aku juga bukan orang yang suka berdiam diri. Bila aku suka sama seseorang, aku langsung mengungkapkannya. Entah melalui puisi atau sekadar dengan guyonan. Syukur jika perempuan itu yang kutuju merasakan adanya sebuah isyarat dariku. Bila tidak…….lebih baik beralih ke buku atau aktifitas lain yang lebih penting. Kembali ke soal yang tadi. Aku dan dia akrab sekali. Meski jarang bertatap muka. Tahukah, dari manakah itu? Aku dan dia saling cerita bahkan saling mengejek melalui telepon. Bisa dibilang, kekraban kami melebihi dari sekadar teman. Aku sangat menyukainya. Ingin sekali aku bertemu dengannya. Memandang bola matanya, dan mengetahui isi hatinya. Sampai akhir Desember, kesempatan itu tak pernah datang. Sekalipun aku yang memintanya dengan halus. Meminta kepadanya. Untuk sekadar silaturrahmi.

Perekrutan pengurus lembaga eksekutif universitas telah selesai. Meski belum resmi, segala persoalan sekretariatan diserahkan ke sekeretaris sementara. Coba tebak, siapakah dia? Aku terkejut dibuatnya. Ternyata dia. Yang sering kutelepon itu. Anehnya, sejak dia hadir di sini, aku tak mampu berkata-kata. Sekadar menyapa saja sulit bagiku. Dia pun demikian. Menjadi pendiam. Tidak seperti biasanya. Lain halnya ketika kami masih di tempat organisasi masing-masing. Masih bisa bercanda. Ketika kami berpapasan. Karena itulah aku harus menhapus ingatan masa lalu. Kuanggap dia sebagai teman baru. Pertama kali ia menanyakan sebuah surat masuk, kuajak dia duduk dan sekadar bercakap-cakap. Semacam basa-basi. Sekali sudah cukup. Aku pun sudah merasa yakin. Sudah menyingkirkan semua perasaan itu. Kini, aku dan dia adalah rival. Bukan teman. Adakalanya kita saling membantu. Tapi kita cenderung menjauh. Heran. Sulit sekali aku berdekatan dengannya.

Kata temanku, yang satu fakultas dengannya, bilang padaku kalau dia tidak yakin untuk berada di sini. Aku jadi merasa bersalah. Aku berusaha berpikir sebentar. Mencari sebuah sebab dari kesimpulan yang kudapatkan. Intinya, dia takkan berumur panjang eksistensinya di sini bila tidak diketahui penyebabnya. Jangan-jangan karena berkaitan denganku. Kemudian aku menelpon kosnya. Katanya sakit, benarkah itu? Di telepon ia bilang kalau dirinya tidak enak badan. Saat itu juga ia bercerita ke aku bila sebentar lagi ia akan pulang. Ia bahkan pamit sebelum aku menanyakan alasannya kenapa ia tidak yakin untuk berada di sini. Ya sudah. Kudoakan ia dalam perjalanan pulang. Semoga selamat sampai rumah. Tempat istirah.

Akhirnya, aku memutuskan sesuatu. Seandainya ia merasa tidak enak karena aku, maka akulah yang akan mengundurkan diri. Agar dia tenang dalam menjalankan tugasnya, serta mampu menyatukan semua teman-temannya. Di sini. Aku sudah puas berada di sini. Dan aku mengerti.

Bemrema, 25 Januari 2007

Hello world!

i’m starting this….ciaoooooooooooogak taw