lembaran jiwaku

lets go frienz hehehehehe…

Arsip untuk Februari, 2007

Tahun berganti

img_0041.JPG

Tahun berganti. Memasuki pada angka 2007, aku merasa umurku berkurang. Kadang aku malu untuk menatap diri dihadapan kaca. Apa yang telah kulakukan untuk masa depanku sendiri? Terlalu absurd untuk membayangkan. Tapi, begitulah hidup. Penuh teka-teki dan misteri. Berkutat dengan segala masalah yang setiap saat mengintaimu. Dari sudut manapun. Bahkan, dari sudut yang dirimu suka. Semisal: persoalan cinta.

Sudah kurencanakan pada tahun ini. Kalau aku ingin mencari tantangan lebih. Yang tidak terlalu mengikat, tapi menguntungkan dari sudut materi. Selain itu aku harus konsentrasi kuliah. Masalahnya adalah, bukan bisa tidaknya tapi cepat lamanya dalam mengambil kesempatan untuk lulus kuliah. Aku kadang iri dengan teman-temanku. Meskipun mereka adalah kakak angakatanku. Seharusnya wajar jika mereka memang lulus lebih dulu. Bagiku tidak. Malah sebaliknya, karena aku selalu menginginkan lebih. Bukannya ambisius—karena aku memang demikian. Sebelum usia 30 tahun, sebagai pria, aku harus sudah punya uang. Artinya, sudah mempunyai penghasilan. Jika mungkin, mampu menciptakan peluang kerja dan kesempatan berusaha. Aku ingin meneruskan tradisi. Hidup dengan menikmati pekerjaannya sendiri.

Januari 2007. Setelah membuat resolusi tahun ini, aku menahan nafas dalam-dalam. Setahun sudah aku berada dilingkaran alur aktifitas organisasi mahasiswa tingkat universitas di lembaga eksekutif. Kawan-kawan seperjuanganku datang dan pergi. Ada yang kembali pulang. Karena sudah lulus dan menikah, ada yang masih tinggal. Menyisakan waktu tanya. Kapan bisa merampungkan skripsinya. Aneh juga, aku kadang berpikir begitu. Padahal, besok aku memilih pameran. Sayang sekali. Karyaku kebanyakan berupa karya grafis. Jika mungkin, aku ingin membuat karya instalasi. Dan kubuat itu dalam nuansa Jawa, di ruang pameran Senirupa FBS Barat. Doakan aku.

Aku ingin menulis suatu hal. Tentang perasaanku. Sebenarnya aku senang atau sedih aku malah tidak tahu. Lagi-lagi berkaitan dengan perempuan. Aku mengenal seseorang pertama kali. Ketika ada semacam program kerja dari lembaga eksekutif—di mana aku menjadi penanggung jawab acara itu. Orangnya ceria, selalu senyum. Kadang nakal. Sedikit menggoda. Berdasarkan biodata di absensinya, aku mengetahui jati dirinya.

Malah aku hampir saja jatuh cinta. Lantas aku ingat. Dalam dunia seperti ini, aku tabu untuk jatuh cinta. Apa lagi sampai mencintai. Kenapa? Cinta adalah suatu candu. Mempunyai daya menghibur—sekaligus mematikan. Maka, aku harus berhati-hati. Aku juga bukan orang yang suka berdiam diri. Bila aku suka sama seseorang, aku langsung mengungkapkannya. Entah melalui puisi atau sekadar dengan guyonan. Syukur jika perempuan itu yang kutuju merasakan adanya sebuah isyarat dariku. Bila tidak…….lebih baik beralih ke buku atau aktifitas lain yang lebih penting. Kembali ke soal yang tadi. Aku dan dia akrab sekali. Meski jarang bertatap muka. Tahukah, dari manakah itu? Aku dan dia saling cerita bahkan saling mengejek melalui telepon. Bisa dibilang, kekraban kami melebihi dari sekadar teman. Aku sangat menyukainya. Ingin sekali aku bertemu dengannya. Memandang bola matanya, dan mengetahui isi hatinya. Sampai akhir Desember, kesempatan itu tak pernah datang. Sekalipun aku yang memintanya dengan halus. Meminta kepadanya. Untuk sekadar silaturrahmi.

Perekrutan pengurus lembaga eksekutif universitas telah selesai. Meski belum resmi, segala persoalan sekretariatan diserahkan ke sekeretaris sementara. Coba tebak, siapakah dia? Aku terkejut dibuatnya. Ternyata dia. Yang sering kutelepon itu. Anehnya, sejak dia hadir di sini, aku tak mampu berkata-kata. Sekadar menyapa saja sulit bagiku. Dia pun demikian. Menjadi pendiam. Tidak seperti biasanya. Lain halnya ketika kami masih di tempat organisasi masing-masing. Masih bisa bercanda. Ketika kami berpapasan. Karena itulah aku harus menhapus ingatan masa lalu. Kuanggap dia sebagai teman baru. Pertama kali ia menanyakan sebuah surat masuk, kuajak dia duduk dan sekadar bercakap-cakap. Semacam basa-basi. Sekali sudah cukup. Aku pun sudah merasa yakin. Sudah menyingkirkan semua perasaan itu. Kini, aku dan dia adalah rival. Bukan teman. Adakalanya kita saling membantu. Tapi kita cenderung menjauh. Heran. Sulit sekali aku berdekatan dengannya.

Kata temanku, yang satu fakultas dengannya, bilang padaku kalau dia tidak yakin untuk berada di sini. Aku jadi merasa bersalah. Aku berusaha berpikir sebentar. Mencari sebuah sebab dari kesimpulan yang kudapatkan. Intinya, dia takkan berumur panjang eksistensinya di sini bila tidak diketahui penyebabnya. Jangan-jangan karena berkaitan denganku. Kemudian aku menelpon kosnya. Katanya sakit, benarkah itu? Di telepon ia bilang kalau dirinya tidak enak badan. Saat itu juga ia bercerita ke aku bila sebentar lagi ia akan pulang. Ia bahkan pamit sebelum aku menanyakan alasannya kenapa ia tidak yakin untuk berada di sini. Ya sudah. Kudoakan ia dalam perjalanan pulang. Semoga selamat sampai rumah. Tempat istirah.

Akhirnya, aku memutuskan sesuatu. Seandainya ia merasa tidak enak karena aku, maka akulah yang akan mengundurkan diri. Agar dia tenang dalam menjalankan tugasnya, serta mampu menyatukan semua teman-temannya. Di sini. Aku sudah puas berada di sini. Dan aku mengerti.

Bemrema, 25 Januari 2007

Hello world!

i’m starting this….ciaoooooooooooogak taw